SUMBER TULIS
Kiamat sudah dekat. Malah ada yang meramal Imam Mahdi, sang juru selamat, akan datang pada Oktober 2015. Benarkah?
Pada zaman yang semakin canggih ini, keyakinan akan hadirnya Imam Mahdi
tidak sirna begitu saja. Bahkan mungkin sangat ditunggu. Perkembangan
sains membawa tafsir baru yang lebih ilmiah dan terukur untuk menaksir
ayat-ayat yang meramalkan kedatangan sang juru selamat. Tak heran
belakangan muncul nabi-nabi sekunder hingga sekte-sekte penjemput
kiamat. Sebut saja Lia Aminudin, Ahmad Musaddiq, Sakti A Sihite, Sayuti,
dan sebagainya. Kita menyaksikan periode sejarah yang sarat dengan ramalan kedatangan Imam Mahdi dan Hari Kiamat.
Teologi
apokaliptik merupakan bagian erat dari tradisi agama semitik, yakni
Yahudi, Kristen, dan Islam. Teologi itu mewahyukan penyingkapan
tabir-tabir kegaiban seputar ramalan, hari kiamat, doomsday, Armageddon, kedatangan Imam Mahdi atau Mesiah.
Sedari awal, agama-agama dalam rumpun Ibrahimi itu hadir dengan
kepercayaan yang meniscayakan pembalasan akhir; surga bagi kebaikan dan
neraka bagi keburukan. Keyakinan akan datangnya Imam Mahdi
sebagai juru selamat dianggap sebagai era mengakhiri kekacauan
(chaotik) dengan membawa risalah menggapai era keemasan dan kebenaran
paripurna.
Atas dasar ajaran yang terwarisi ini, mahdiisme atau mesianisme bukan
sekadar berita Ilahi yang diturunkan ke muka bumi. Akan tetapi, ia
kemudian menjadi penggerak dari pelbagai mazhab dan sekte hampir di
semua agama Ibrahimi, termasuk Islam.
Konsepsi dan formulasi yang menandai mahdiisme terus berkembang dan
menjawab berbagai tantangan di setiap zaman, bahkan dalam riwayatnya
yang mensakralkan kekerasan. Di dalam Islam, tradisi Syiah dan Sunni
tidak pernah luput dari teologi apokaliptik itu. Klaim keselamatan dan
kebenaran pun kerap kali merasuk dan membingkai keimanan, entah ada yang
memaknainya untuk menyemai perdamaian di antara umat beragama, ada pula
yang memaksakan kehendak pada tafsir yang tunggal.
Di era global yang sudah canggih sekarang ini, teologi apokaliptik
tidak sirna begitu saja. Ilmu pengetahuan moderen tidak serta merta
menghapus “ketakhayulan” yang meliputi teologi apokaliptik itu.
Perkembangan sains justru membawa tafsir baru yang lebih ilmiah dan
terukur dalam epistemologi pengetahuan untuk menaksir ayat-ayat
mesianik. Teologi apokaliptik semakin digugat dan dipertanyakan, masa di
saat banyak nubuat yang meramalkan kejadian kiamat, bermunculnya
nabi-nabi sekunder, sekte-sekte penjemput kiamat, hingga banalitas
kejahatan politik global. Umat manusia menyaksikan periode sejarah yang
sarat dengan kalkulasi apokaliptik.
Buku ini datang pada saat yang tepat. Setelah memberi jawaban teologis mengenai kemunculan Imam Mahdi dalam tradisi Islam sekaligus Yahudi dan Kristen, buku ini membantah ramalan
Jaber Bolushi tentang kiamat 2015. Buku ini menguak manipulasi data,
aksi “akrobat ayat”, hitung-hitungan yang problematis, dan inakurasi
penghitungan yang dilakukan Bolushi. Polemik dibingkai dalam telusur
ilmu pengetahuan yang mudah dicerna dan tidak spekulatif.
Ditulis dengan gaya ulas ringan dan mengalir, buku ini menyajikan untuk
kesekian kalinya tegangan antara sains dan agama, yang masih
memungkinkan adanya titik temu dalam belantara kemisteriusan Tuhan. Sang
penulis yang memiliki silsilah keturunan Nabi (habib) mampu meletakkan ramalan kedatangan Imam Mahdi dalam argumentasi yang proporsional. Selain meluruskan akidah, buku ini kaya data menarik dalam sejarah, sains, dan peramalan.
Isyu kedatangan Imam Mahdi
dan tanda-tanda akhir zaman memang menjadi isyu yang memukau banyak
pihak. Terutama pihak-pihak yang merasa prihatin dengan keadaan dunia
yang dipenuhi kezaliman dan kemunafikan. Harapan-harapan yang dibangun
atas nama pencerahan dan kedamaian telah membangkitkan angan-angan
melalui berbagai ramalan yang tidak jarang
patah ditengah jalan. Tergilas oleh kenyataan yang berkata lain. Gagasan
peramalan datangnya ratu adil atau satria piningit yang menjadi juru
selamat manusia dengan menggunakan nash-nash keagamaan bukan hanya
dominasi dari umat Islam. Kita hanya mewarisinya secara serampangan dari
tradisi umat-umat lain yang mengalami penindasan-penindasan dalam
sejarah panjang mereka.
Orang
berbicara mengenai pembaharuan agama, berbicara tentang pentingnya
khilafah Islamiyah dan ada pula orang yang berbicara tentang
pengharapannya atas kedatangan Imam Mahdi, messias Islam yang ditunggu-tunggu sejak terzalimnya Ahli Bait Nabi ratusan tahun yang silam.
Kerinduan atas hadirnya Imam Mahdi ditengah umat Islam, tidak jarang membentuk penyelewengan-penyelewengan terhadap nash-nash keagamaan.
Salah satu contohnya adalah perbuatan Jaber Bolushi dalam melakukan ramalan-ramalan
berkaitan dengan kejadian yang akan menimpa dunia dimasa depan,
berdasarkan perhitungan “hieroglyph numbering” huruf Hijiyah yang
disebutnya sebagai Al-Jumal al-Taqlidi dan al-Jumal al-Saghir !
Orang-orang
seperti Jaber Bolushi atau Rashad Khalifah telah memilih untuk
menggunakan pengetahuan empiris sebagai jembatan populeritas mereka.
Seberapa jauh kebenaran ramalan
Jaber Bolushi atau termasuk juga didalamnya Bassam Nahad Jarrar dan
Rashad Khalifah menjadi kenyataan ? Biarlah perjalanan waktu yang kelak
dengan izin Allah akan membuktikan kepada kita. Akankah kita ikut
menjadi saksi tumbangnya kembali ramalan-ramalan pembenaran yang diatas namakan nash-nash suci ?




0 komentar: